Gunung Bromo, berungtungnya..

24 maret 2016, Pukul 22.00, Saya dan teman-teman mulai berangkat menuju ke gunung Bromo. Kami ingin merasakan bagaimana indahnya ciptaan Tuhan sekaligus membuang segenap kejenuhan setelah beberapa  hari beraktivitas, mengajar dan belajar.

Saya bersama dengan teman-teman English Studio mengukir cerita dalam waktu kami dengan melangkahkan kaki menuju Bromo. Saya sempat merencanakan kesana sebelum ke kampung bahasa inggris ini, tapi setelah program kursus saya selesai. Alhamdulillah, saya merealisasikan rencana yang telah saya pikirkan dulu. Menikmati suguhan panorama dari keindahan dari gunung Bromo. Bukan hanya satu pemandangan, tapi kami dimanjakan dengan beberapa ketakjuban yang tak pernah ditemui sebelumnya.

Awalnya, kami menuju tempat dari sisi bromo untuk melihat terbitnya matahari. Luar biasa pemadangannya, dan juga diikuti dengan tusukan udara dingin sekitar tempat itu. Andai tempat itu hanya memiliki belasan pengunjung, saya yakin suasana langkah itu akan semakin berkesan. Sayangnya, keramain itu merusak alunan warna keindahan yang menagantarkan makna dari panorama itu. 

Setelah itu, kami menuju ke tempat yang tidak kalah serunya. Daerah itu dikenal dengan nama "Pasir Berbisik". Masyarakat disana menamakan pasir berbisik karena padang itu membentuk angin beliung yang kecil dalam jumlah yang banyak dan seolah-olah membisikkan sesuatu. Sebenarnya yang paling indah adalah pemandangan dibalik padang pasi berbisik itu. Kita bisa melihat hamparan gunung yang sungguh menenangkan hati. Mungkin karena cuacanya yang cerah dan suhunya yang dingin. Bahkan saya sempat berpikir bahwa gunung-gunung itu sedang berzikir kepada Allah.

Moment yang menjadi puncak perjalanan dari trip ini adalah melihat secara langsung kawah dari gunung Bromo. Tapi saat itu saya belum ditakdirkan untuk melihat langsung. Saya tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan teman-teman yang lain karena salah satu dari kami mengalami sakit. Perjalanan lumayan jauh, karena kami harus berjalan selama 2 km untuk menuju kesana, dan 2 km lagi untuk balik ke parkiran Jeep. Meskipun saya tidak bisa mendaki dan melihat langsung kawah Bromo saat itu, saya berjanji saya akan kesana lagi. Saya tidak menyesal meskipun tidak melihat karena ada hal penting yang harus saya diutamakan dibandingkan kesenangan sendiri. Menjaga teman yang mengalami sakit itu tak bisa dibandingkan dengan semuanya.

Saya sangat senang karena sudah menikmati keindahan panorama sekitar gunung Bromo. Sungguh beruntunglah Bromo karena di kelilingi dengan keindahan alam yang sungguh  menakjubkan.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Bromo, berungtungnya.."

Post a Comment