Mengigit Ketakutan

Akhirnya salah satu ketakutanku di dunia telah saya atasi. Jujur, banyak hal yang menjadi tembok beton di depanku sehingga saya sulit berkarya. Namun suatu kesyukuran karena satu per satu saya telah lewati setelah menanamkan kepercayaan yang kuat dalam hati dan iman.

Bahasa Inggris mungkin dianggap sebagai pelajaran yang menyenangkan oleh beberapa orang, tapi itu tdak berlaku dalam kamusku. Studi itu menjadi momok yang paling menakutkan dalam hidupku. Bahkan alasan saya mengambil pedidikan matematika di perkuliahan karena saya tidak ingin ketemu dengan kata itu. Saya mau mencapai semua impian tapi saya tidak mau dalam perjalananku ketemu dengan Bahasa Inggris.

Semua tidak berjalan seperti yang saya inginkan. Ternyata saya harus ketemu dengan bahasa inggris. 3 mata kuliah saya di kampus memerlukan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya. Dengan berat hati saya harus melewati. Jujur, mata kuliah itu adalah yang paling berat saya jalani padahal hubungannya dengan matematika hanya sekitar 30%. Demi nilai yang harus saya peroleh, saya harus mengesampingkan semua ketakutan ini.

Setelah saya berada di semester akhir, saya memperoleh angin segar. Perspektif saya mengenai bahasa inggis mulai mengarah ke hal yang positif. Saat itu saya dengan beberapa temanku membuat bimbingan belajar. Seperjalanan dari usaha tersebut saya harus mengubah program bimbingan tersebut. Semua program diarahkan ke peningkatan bahasa inggris. Jadi, secara terpaksa saya harus menyentuh lagi dengan momok itu. Situasi dan tuntutan hidup memaksa saya untuk bergelut dengan itu lagi.

Waktu demi waktu terasa bahasa inggris telah memikat hatiku. Awalnya saya terpaksa mempelajarinya karena saya tidak ingin ditertawai oleh teman-temanku karena saya sangat kurang dalam bahasa inggris. Apalagi saya telah membangun lembaga Bahasa Inggris.  Bahkan untuk mengukur sekaligus meningkatkan kemampuan kemampuan bahasa inggrisku, saya bergabung dengan organisasi Internasional AIESEC setelah saya menyelesaikan studiku di Universitas Negeri Makassar. Saya menjadi tour guide untuk member dari AISEC yang sedang melakukan kegiatan di Makassar. Kebetulan pada saat itu saya dipercaya untuk membantu Rahul (India) dan Filipa (Portugal) memahami lingkungan Makassar. Saya tahu kemampuan bahasa inggris saya kurang tapi saya tetap memaksa untuk aktif terlibat speaking dengan mereka. Paling tidak dengan saya terlibat dalam kegiatan tersebut, saya bisa lebih percaya diri untuk ngomong bahasa inggris. Satu yang selalu saya ingat pesan dari teman bahwa kemampuan bahas inggris dapat ditingkatkan kalau kita sering praktek dan memiliki kepercayaan diri.

Bersamaan kegiatan tersebut, saya ternyata dapat panggilan untuk tes di Bosowa International School (BIS). Suatu kesyukuran karena tes administrasi, pshysico test dan wawancara sudah saya lewati dengan baik. Tapi ada test yang telah menunggu dan bagiku itu adalah test yang terberat. Saya harus melewati test microteaching. Mungkin mudah bagi saya kalau itu testnya menggunakan bahasa inggris. Akan tetapi, karena ini sekolah menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, maka saya harus mengajar menggunakan full bahasa inggris. Hal yang membantu saya untuk persiapan microteaching adalah karena saya sudah memiliki kemampuan dasar untuk percakapan sehari-hari setelah bergelut dengan salah satu proyek AIESEC.

Berungtunglah, pada saat itu saya bisa melewati test tersebut. Berdasarkan bocoran yang saya peroleh mengenai hasil dari microteaching bahwa kemampuan bahasa inggris saya kurang tapi saya memiliki kepercayaan diri dan semangat pada saat mengajar. Oleh karena itu, mereka menerima saya sebagai math teacher dengan harapan bahwa saya bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya sambil mengajar.

Setelah setahun mengajar di BIS, saya mulai menyukai bahasa inggris. Saya tidak pusing lagi kalau melihat bacaan bahasa inggris karena memang buku pegangan ngajar saya menggunakan bahasa inggris. hehe.. Bahkan saat itu saya memiliki target baru, yaitu mempelajari bahasa inggris lebih mendalam. Hal itu termotivasi karena saya ingin melanjutkan studi di luar negeri tepatnya di Inggris. Suatu hal yang aneh dan diluar prediksiku karena awalnya saya takut dengan bahasa inggtris, tapi saya berubah aluan dan mau  mendatangi negara asal dari bahasa inggris tersebut.

Dengan ucapan basmalah, akhirnya saya memutuskan untuk resign dari kerjaan saya pada bulan September 2015. Saya ingin memfokuskan waktuku untuk mempelajari IELTS. Saya tahu bahwa saya memiliki impian yang besar untuk kulian di luar negeri, makanya saya harus mengorbankan suatu hal yang besar pula. Karirku di BIS harus saya hentikan untuk menuju masa depan yang lebih cerah. Mungkin orang bilang bahwa saya telah berjudi besar karena mengorbankan yang besar untuk sesuatu yang belum pasti. Betul pernyataan itu bahwa saya belum pasti memperoleh beasiswa, tapi kalau saya tidak mencoba, saya yakinkan bahwa peluang saya adalah NOL BESAR. Bukan kah hidup lebih tertantang kalau kita berani berjudi dalam karir asalkan kita mempersiapkan dengan matang rencananya dan mau berjuang dengan keras.

Tepat pada tanggal 8 Oktober 2015, saya melakukan rantauan kecil ke Kampung Pare, Kediri. Saya kesana belajar persiapan tes IELTS selama 4 bulan. Pada saat pemberangakatan sebenarnya saya belum menyukai bahasa inggris seuntuhnya. Bahkan masih ada rasa ketakutan sedikit untuk mempelajari. Saya takut bahwa tidak mampu mencerna dengan baik bahasa inggris. Namun smua itu terjawab dengan indah. Proses belajar di English Studio membuat saya mulai jatuh cinta dengan bahasa inggris. Saya mulai memiliki hasrat yang tinggi untuk mempelajari bahasa inggris.

Saat ini, meskipun saya sudah ada di Makassar, saya masih mempelajari bahasa inggris. Saya mengucapkan banyak terima kasih buat teman-teamnku yang telah menginspirasi saya untuk mempelajari bahasa inggris dan English Studio sebagai kursus terbaik yang telah saya masuki hingga saat ini. ES telah membangunkan raksasa dalam diriku. Meskipun saya masih belum memenuhi target nilai IELTS, tapi kemampuanku saat ini telah menunjukkan peningkatan yang sangat besar. Saya tidak bisa membayangkan bahwa saya bisa menulis dalam bahasa inggris dan bisa mengerjakan soal-soal reading dengn baik. English Studio telah memberikan keajaiban buat kemampuan bahasa inggrisku

Pengalaman yang saya bisa bagikan kepada yang lain bahwa ketakutan itu bukan dihindari, tetapi dihadapi. Saya takut dengan bahasa inggris, makanya saya harus hadapi. Mintalah saran dari orang-orang terdekat untuk menghadapinya dan percaya bahwa semua itu bisa dihadapi. Semua itu hanyalah masalah waktu. Tuhan tidak mungkin menciptakan tantangan kalau tidak memiliki solusi. Keteguhan dan kegigihan adalah kuncinya untuk mencari jalan mencapai semua itu..

Mungkin kita memiliki keterbatasan, tapi keterbatasan bukan hal yang menjadi bencana untuk mengapai impian kita.
Hidup hanya sebentar. Maju untuk terus berkembang atau diam dan membiarkan ketakutan itu menghacurkan tangga impian kita.


May 6 2016
Akbar Mappiare


Note: Di lain waktu saya akan bercerita mengenai perjuangan saya memperoleh beasiswa dan Nilai IELTS. Saya masih dalam perjalanan menuju target tersebut. Saya berharap pembaca bisa membantu melalui doa sehingga saya bisa mencapai terget-terget sdecepatnya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengigit Ketakutan"

Post a Comment