Titik Keseimbangan

Masih teringat gurauan dengan teman akrabku Ainun Najib mengenai niat untuk berada satu kost di Australia seandaianya kami melanjutkan S2 disana. Jujur, saat itu entah apa dalam pikiran saya sehingga berani mengucapkan statement tersebut padahal saya bukanlah orang yang unggul dibanding mahasiswa lain. Apalagi saya baru bisa merasakan namanya kegiatan organisasi pada saat memasuki dunia perkuliahan.

Namun gurauan itu sedikit demi sedikit mulai dikonversikan dalam dunia nyata. Itu sangat nampak dari apa yang dirasakan dan dialami oleh temanku Najib. Hanya menunggu waktu untuk bisa melanjutkan kuliah disana. Sedangkan saya, kakiku telah berada dalam jalur yang benar. Hanya ketekunan dan kemauan yang menjadi kekuatan untuk mencapai semua itu.

Mungkin pada saat kami bergurau, malaikat mendengar dan meng-Amin-kan. Makanya, sebaiknya kita mengucapkan hal-hal yang positif. Bahkan untuk bercanda pun, sebaiknya didasari dengan hal positif. Banyak orang yang berkata bahwa kata-kata adalah doa, dan saya mempercayai itu. 

Tapi kalau kita melihat lebih jauh, semua itu tidak terlepas dari usaha dan doa. Mungkin banyak orang menganggap itu sebagai keberuntungan. Tapi saya tekankan bahwa tidak ada keberuntungan datang begitu saja, Ini namanya rejeki, tetapi semua trejeki tersebut tidak akan datang tanpa dijemput. Saat ini orang melihat hasilnya saja, tapi di belakang dari hasil tersebut terdapat air mata, keringat, waktu, dan materi yang harus diinvestasikan untuk menebus semua pencapaian tersebut.

Sebelum saya bercerita tentang pengalamanku, saya akan bercerita tentang pengorbanan dari temanku ini. Dia adalah salah satu pria yang berani melakukan perjudian besar. Pergi ke pare kediri dengan bermodalkan dari hasil menjual benda kesayangannya. Benda yang sudah memberikan beribu kenangan bagi dia. Tapi namanya barang, mau tidak mau pasti takkan mampu bertahan lama. Entah itu karena rusak, dicuri ataupun dijual. Alangkah bagusnya kalau benda tersebut dikorbankan untuk hal positif. Itu mungkin menjadi pemikirannya berdasarkan analisis pribadiku.

Setelah itu dia harus mengorbankan pikiran, tenaga, uang dan waktunya di kediri selama 4 bulan. Bukan hal yang kecil melewati hal tesebut karena saya sudah merasakan sendiri. Tidur selama 3 jam sehari adalah hal yang lumrah ketika harus belajar disana. Lebih spesifik tempatnya adalah English Studio. Sistemnya memang dirancang untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kita secara efektif dan efisien sehingga perjuangan keras adalah harga mati. Bukan apa-apa, mimpi yang besar harus dibayarkan dengan investasi yang besar. Saya selalu menyebut sebagai investasi karena itu akan terbayarkan. Bukankah energi itu kekal, maka apa yang kita keluarkan pasti akan terbalaskan. Kita berinvestasi untuk hal-hal positif, pasti dampak positif pula yang menghampiri kita.

Sebenarnya, pengalaman itu juga menjadi salah satu inspirasiku untuk mengorbankan karirku di Bosowa School Makassar. Resign dari pekerjaan dan merantau ke Kediri untuk belajar. Bukan hal yang mudah. Karena saya harus melawan rasa takut saya untuk gagal mencapai target itu dan mempertahankan keputusanku setelah berbagai pendapat teman yang mengoyangkan. Namun saya selalu mengingat bahwa terkadang kita harus keluar dari zona nyaman untuk naik level yang lebih tinggi. Saya harus berani mengorbakan pekerjaan yang berpotensi untuk masa depan yang lebih cerah meskipun kartu belum dibagikan

Akhirnya, dengan modal dari sisa uang gaji dan bantuan saudara, saya pun ke kediri untuk belajar Bahasa Inggris dengan disambut dengan berbagai kejutan. Wajar saya terkejut karena saya tidak menyangka atmosfer balajar di English Studio sangat serius dengan jadwal yang padat. Belajar dari jam 6 pagi hingga tengah malam merupakan kebiasaan sehari-hari untuk siswa disana. lelah tidak bisa menjadi alasan karena semakin kita merasakan rasa sakit itu berarti semakin besar pula harga yang Allah harus bayar buat perjuangan kita.

Salah satu hal yang menjadi tantangan terbesar ketika belajar disana adalah sakit. Jauh dari keluarga ketika sakit akan membuat hari-hari kita semakin berat. Saya memang memiliki teman, tapi kita semua tahu bahwa keluarga adalah orang yang paling peduli ketika kita sakit. Sesibuk apapun keluarga pasti ada waktu untuk anggota keluarga yang sakit.Terbaring di kamar sambil menatap langit-langit merupakan sepenggal waktu yang terasa berat untuk dilewati ketika itu. Akan tetapi, wallpaper di handphone-ku selalu mengingatkan tujuan utamaku kesana.

Semua orang punya mimpi dan cita-cita. Tetapi saya percaya bahwa semua pencapaian tersebut harus dibayar dimuka. Tidak ada hal keberuntungan yang datang langsung di muka bumi. Semua butuh alasan, ini yang dinamakan hukum sebab-akibat. Ketika kita berani bermimpi, berarti kita telah berani merasakan rasa sakit. Semakin banyak rasa sakit yang kita rasakan untuk hal-hal positif, semakin berat Tuhan untuk tidak mengabulkan smua impian kita. Hanya terkadang Tuhan memberikan jalan yang lebih baik buat kita meskipun itu tidak sesuai harapan kita. Berusaha saja semaksimal mungkin. biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya. Hiasilah segala usaha tersebut dengan doa yang penuh harapan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Titik Keseimbangan"

Post a Comment