ALL IN

Ada dua ketakutan saya di dunia ini. Pertama adalah Bahasa Inggris dan kedua adalah Berenang. Entah kenapa saat ini saya sudah bergelut dengan ketakutan pertama saya. Bahkan saya bisa merangkul ketakutan tersebut dengan nyaman.

Sebenarnya banyak hal yang menyebabkan saya kurang senang dengan pelajaran Bahasa Inggris. Di dalam kepala saya, Bahasa inggris merupakan momok yang paling menakutkan. Padahal saya sudah mencoba untuk mempelajarinya lebih spesifik ketika duduk di bangku SD kelas 6. Saya sudah mengumpulkan dana untuk masuk kursus English, tapi hasilnya tetap berhenti di jalan. Saya selalu meninggalkan program di pertengahan periode. 

Salah satu alasan sehingga saya tidak senang dengan pelajaran tersebut adalah cara guru saya ketika mengajar Bahasa Inggris. Beliau-beliau hanya masuk kelas dan mejelaskan sedikit, itupun mengenai grammar, setelah itu kami disuruh kerja tugas yang ada di buku Lembar Kerja Siswa. Untung kalau dijelaskan, terkadang ada momen dimana beliau hanya memberi tugas dan sisa menunggu buku LKS kami untuk dikumpul.

Sempat saya heran dalam beberapa kejadian, saya disuruh bersiap-siap untuk ujian listening English, tapi kami nggak pernah praktik listening di dalam kelas ataupun laboratorium Bahasa. Seingatku, selama saya bersekolah, tidak lebih dari 10 kali saya menggunakan laboratorium bahasa. Mana kami tidak geplek kalau begitu kejadiannya. Makanya sejak saat itu saya berniat menjadi pengajar. Saya mau menyikirkan cara-cara clasical dalam mengajar dari dunia pendidiakn. Metode itu menghabiskan waktu yang banyak, tetapi memberikan efektivitas yang kecil. Saya tidak mau paradigma itu bertahan terus. Perlu ada perubahan dan saya ingin perubahan itu lahir dari tanganku.

Berat betul untuk mempelajari sesuatu yang tidak senangi. Alasannya sederhana, karena tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Tapi kalau mau menunggu moment dimana saya menyukai English, mau nunggu sampai kapan. Makanya saya terjun saja. Saya hanya pasrah dengan proses yang akan saya jalani ke depannya.

Kalau diibaratkan dalam video game, saya telah bermain poker dan memasang All IN. Saya memasang semua taruhan saya di meja secara sekaligus. Maksudnya, saya telah total untuk mengajar impian saya tersebut meskipun harus bermesraan dengan ketakutan tersebut dan mengorbankan beberapa hal yang besar. Sebenarnya bukan dikorbakan, tapi diinvestasikan. Jadi saya melepas masa depan yang sudah di tangan dan ditaruhkan dengan sesuatu yang belum pastiu bisa diperoleh. Akan tetapi, saya punya prinsip bahwa seorang pria harus memperjuangkan segala sesuatu selama itu hal kebaikan. Lebih baik maju meskipun harus kalah, dibanding hanya berdiam diri dalam zona kenyamanan. Keadaan tersebut memang sulit, tapi akan terlewati sendirinya ketika impian selalu terbayang di depan mata. Selalu berfokus pada hasil yang akan diperoleh di ujung perjuangan.

Langkah konkrit saya untuk merealisasikan niat tersebut adalah saya berangkat ke Kampung Inggris. Awalnya, keluarga saya mempertanyakan alasan saya kesana karena pekerjaan saat itu sangat menjanjikan masa depan. Tapi setelah saya diskusikan mengenai alasanku kepada keluargaku, mereka semua balik mendukung. Bahkan kakak kedua saya siap membantu dana ketika saya kekurangan di Kediri.

Satu bulan di kediri merupakan hari-hari yang terberat di jalan kehidupan. Selama seharian saya harus mempelajari dan mulai mencintai Bahasa Inggris. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana saya awalnya memiliki obsesi untuk melawan ketakutan tersebut. Saya sempat merasa ingin  lepas rutinitas di kediri, tetapi saya sudah terlalu jauh melangkah. Saya sudah terlalu jauh jatuh, hingga saya tidak punya alasan lagi untuk ke bawah. Rasa sakit itu mengajarkan tentang arti sebuah keterpurukan dan bagaimana menjadikan semua itu sebagai sahabat yang memacu terus maju.


Alhmadulillah, hingga tulisan ini terbit, saya masih berada track awalku. Saya masih berusaha di kediri untuk menyebarangi halangan tersebut dan menemukan pelapas dahaga yang telah kudambakan. Bukan tidak bisa, tetapi belum saatnya. Hnya waktu yang bisa memastikan semua itu. Berjuang, Bersabar , dan Berdoa meruapakan kekuatanku untuk mempercayai kekuatan dari sebuah Impian.

Kampung Inggris, August 19th 2016



Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "ALL IN"

  1. ����. Ingin juga merangkul ketakutan itu (bahasa Inggris)

    ReplyDelete
  2. Nikmati prosesnya De'... Semua bisa dicapai asalkan ada keyakinan dan semangat untuk berubah....
    Good Luck belajanya di pare

    ReplyDelete