Kegelisahan dalam sentuhan Tuhan

Beberapa hari ini entah kenapa saya merasakan sebuah kegelisahan. Bahkan demam pun menghampiri tuk melengkapi teka-teki tersebut. Saya belum bisa memastikan apakah karena satu hal itu, tapi bisa jadi iya.


Saya merindukan suasana yang dulu, suasana mengajar. Sudah setahun lamanya saya tidak mengajar matematika lagi. Sebenarnya bukan mengajar matematika, tapi suasana di dalam kelas. Mengajar di dalam sebuah ruangan yang penuh keceriaan. Memang terkadang saya mengeluh dengan kesulitan kerjaan ketika bekerja di tempat yang dulu. Akan tetapi, saya menemukan kebahagiaan yang tidak saya peroleh ketika mengeluti profesi lain. Senyum dan tawa yang tulus menjadi kekuatanku untuk terus bertahan hingga suatu alasan.

Memang betul, saya juga mencari kesejahteraan. Saya ingin memperoleh pekerjaan yang memiliki pekerjaan yang salary nya tinggi, sehingga keluarga saya nanti tidak terbengkalai. Saya selalu sadar bahwa pria harus memikirkan keluarga, bukan untuk kebaikan dirinya sendiri. Tapi ada baiknya kalau pekerjaan saya itu memberikan kepuasan batin. Sampai saat ini, saya menyimpulkan bahwa pekerjaan yang mampu menghidupi keluargaku dan bathin ku adalah mengajar matematika. 

Dua hari lalu, tidak tahu kenapa saya bermimpi kembali bekerja di tempat yang dulu. Bahkan guru dan siswa disana menyambut baik. Rasa senang tak terkira saya perlihatkan karena saya telah kembali ke rumah sendiri. Keceriaan yang telah hilang datang kembali. Tapi apa boleh buat, itu hanya sebuah mimpi atau bisa jadi jawaban dari kegelisahan.

Namun, saya tidak akan menyesal atas keputusan yang telah saya buat. Semua yang terjadi saat ini merupakan batu lonjatan untuk mengasah kemampuan mengajar matematika. Semakin banyak yang telah saya pelajari, maka semakin banyak pula yang saya akan ajarkan. Bukan kah target saya adalah bagaimana saya bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Semoga mimpi saya itu tetap tertempel di jidatku dan masih merasuk di pikiran. Kalau diambil positifnya, mungkin kegelisahan itu adalah salah satu cara Tuhan mengingatkanku untuk terus fokus pada target awalku. Karena tanpa disadari saya telah bertemu berbagai persimpangan yang mampu menawarkan masa depan. 

Kampung Inggris-Pare, 24 Agustus 2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kegelisahan dalam sentuhan Tuhan"

Post a Comment