Tak perlu menjadi Matahari, cukup Bintang

Tak perlu menjadi Matahari, cukup Bintang

Suatu kesyukuran karena saya sudah kembali mengajar. Kali ini saya meng-handle kelas basic terkhusus daily conversation. Sampai saat ini kelas tersebut masih berjalan. Sungguh menyenangkan karena kelas tersebut diisi oleh adik-adik yang bersemangat.

Mereka berjumlah 4 orang dan semuanya baru menyelesaikan studi nya di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka saya mudah mena. erima materi karena mereka masih muda dan belum banyak hal yang perlu dipikirkan. Meskipun saya mengajar mereka dalam kelas tesebut, sebenarnya mereka juga memberikan inspirasi bagi saya. Semangat mereka untuk belajar tidak dapat di anggap remeh. Itu terbukti setelah saya meningkatkan intensitas pemberian tugas. Mereka mengikut saja dengan instruksi, tanpa membalasnya dengan rasa keluhan.

Setelah saya mengikuti kelasnya, ternyata ada hal yang membuat mereka begitu besemangat. Mereka belajar dengan sepenuh hati. Nampak dari waja mereka bahwa sebenarnya mereka datang ke English Studio untuk belajar. Mereka tidak menganggap bahwa apa yang dilewati sekarang adalah beban tapi tantangan untuk menjadi lebih baik. Kesedaran mereka mengenai pentingnya belajar Bahasa Inggris sudah terbangun baik di pikiran mereka. 

Selain tugas yang saya tingkatkan, saya juga mengajarkan disiplin. Awalnya mereka sering terlambat ke kelas karena lokasi kelas sekarang lebih jauh dari sebelumnya dan jam kelasnya pun lebih awal. Namun setelah saya jelaskan bahwa kedisiplinan itu penting untuk meraih kesuksesan, mereka mulai datang tepat waktu. Bahkan mulai dari hari keempat, tidak ada lagi yang terlambat dan proses belajar dapat terlaksana sebagaiman mestinya. Kesadaran itu hadir karena mereka mau menjalani proses yang ada dengan sepenuh hati.

Tak dapat dipungkiri bahwa candaan juga hadir di dalam kelas. Akan tetapi itu tidak mengurangi esensi palajaran. Saya tidak ingin mereka merasa terbebani. Materi dan tugas yang saya berikan cukup berat, sehingga tidak pantaslah suasana di dalam kelas jatuh dalam keseriusan. Bukan kah balajar tidak perlu sepenuh waktu, tapi sepenuh hati. Mereka dengn mudah menghafal dan mempraktikan daily conversation secara beban karena  itu dianggap sebagai permainan. Bukan kah setiap pengajar harus mengamati situasi yang ada. Kapan suasana kelas harus serius dan kapan haru segera dihadirkan senda gurau. 

Selain itu, kekompakan mereka harus diajungin jempol. Tak ada diantara mereka ingin menjadi Matahari. Mereka cukup menjadi bintang yang memiliki sinar tesendiri. Tak ada yang ingin nampak yang paling hebat di antara mereka. Saling membantu satu sama lain itu terbentuk secara alamiah dalam kelompok mereka. Keinginan berkompetisi tidak hadir karena mereka sadar bahwa itu bukan menjadi tujuan mereka. Mereka cukup memiliki kesadaran bahwa kedatangan mereka ke ES untuk menjajaki setepak yang menuju impian mereka.

Saya berharap kedepannya mereka tetap memegang mimpinya dan membiarkan api semangat itu hadir dalam tungku harapan. Tak perlu menjadi terbaik, cukup saling berpegangan ketika melewati tahap-tahap selanjutnya. See you on the top guys.


Kampung Inggris - Pare, 31 Agustus 2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tak perlu menjadi Matahari, cukup Bintang"

Post a Comment