"Mimpi besar diawali dengan pengorbanan yang besar" (Lembaran Pertama)

Allahu Akbar... Allahu Akbar... 
Maha Suci Allah.. Dia tidak bosan-bosannya memberikan  kenikmatan-Nya pada hamba-hambaNya.
Akhirnya, perjuangan itu telah mulai menuai hasil...


Bismillahirahmanirahim...

Kali ini saya akan bercerita tentang apa yang terjadi selama setahun terakhir ini. Perjuangan yang membutuhkan tenaga, materi, dan air mata. Semua itu nampak sulit, tapi akhirnya bisa terlewati dan memberikan hasil seperti yang diharapakan.

Mungkin sulit bagi beberapa orang untuk mengambil keputusan ketika berada di posisiku. Saya harus melepaskan pekerjaan yang sudah membuatku nyaman. Dengan kata lain saya sudah berada di Comfort Zone. Saat itu saya sebagai salah satu guru di Bosowa International School (BIS). Jangan tanyakan gaji, karena BIS adalah salah satu sekolah yang menawarkan gaji tinggi. Maklum, BIS merupakan salah satu sekolah bergensi di Makassar. Selain itu, saya juga sudah nyaman dengan atmosfir disana karena keakraban saya dengan guru-guru yang lain dikategorikan sebagai hubungan yang harmonis. Akan tetapi, semua itu harus di korbankan untuk meraih impian yang besar. 

"Mimpi besar diawali dengan pengorbanan yang besar"

Satu hal yang membuat saya bersemangat untuk meraih impian tersebut adalah dukungan sahabat-sahabatku di LPM Penalaran UNM. Itu diawali ketika saya menjadi salah satu orang yang mengantarkan sahabatku Misnariah Idrus ke bandara sebelum berangkat ke Brimingham University. Disitu kami sempat bercakap-cakap singkat namun memberi kesan. Inti dari pembicaraan itu adalah bahwa saya bisa menggapai impian saya tersebut. Impian untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Pertemuan pada saat itu ditutup dengan sebuah ikrar antara kami berempat (Saya, Ainun Najib, Soma Salim dan Misnariah Idrus). Kami mengucapkan janji bahwa kami mau berjuang secara total untuk menggapai impian kami. Sebagai pengingat janji tersebut, kami mengambil foto yang sangat berkesan.

Beberapa hari setelah moment tersebut, saya mengahadapi keputusan yang kontroversial. Saya memutuskan untuk resign dari kerjaan. Karena saya sadar bahwa saya punya tantangan terbesar dalam persyaratan beasiswa, yaitu Bahasa Inggris. Makanya saya butuh totalitas ketika ingin mencapai target tersebut dalam waktu dekat. Saya harus memfokuskan semua waktu dan tenagaku untuk persiapan tersebut.

Selama hampir seminggu, saya selalu mempertanyakan keputusan tersebut apakah sudah tepat. Makanya saya meminta masukan dari orang-orang terdekatku. Saat itu saya menanyakan kepada kakakku karena memang kami sekeluarga sudah tidak memiliki orang tua sejak tahun 2000. Saya ingin konsultasi kepada mereka sekaligus meminta izin tuk menjalani misi tersebut. Namun, saya tidak bisa secara langsung sampaikan karena saya harus memilih waktu dan tempat yang tepat. Akhirnya saya menemukan waktu yang tepat yaitu ketika kami lagi ngumpul di ruang tamu sambil makan cemilan dan menonton TV. Dengan kata-kata terstruktur dan flow yang tenang, saya jelaskan targetku ke depan.

Seperti biasa, mereka selalu mempertanyakan apakah saya bisa dapatkan itu. "Yakin joko kah dapatki itu Akbar. Kuliah luar negeri inie." kata mereka. Akhirnya saya memperkuat penjelasan tersebut dengan menceritakan pengalaman sahabatku Misnah dan Soma salim untuk meraih beasiswa. Saya jelaskan bahwa mereka adalah sahabat akrabku dan kamampuan kami sebenarnya tidak jauh berbeda. Kalau mereka bisa gapai, saya yakin saya juga bisa. Melihat kegigihanku untuk menjelaskan, kakakku mulai menyetujui keputusanku tersebut.

Selain saya meminta pendapat ke keluargaku, saya juga meminta masukan dari teman-temanku. Waduh, saya dibuat dilema beberapa saat setelah mendengar masukan mereka. Ada yang memberikan masukan untuk tetap bekerja saja karena saya bisa memperoleh masa depan yang cerah bila berkarir disana. Tak bisa dipungkiri bahwa Bosowa merupakan perusahaan terbesar di Sulawesi dengan system yang sangat bagus sehingga masa depan pegawainya sangat terjamin.

Beberapa teman saya menyarankan saja untuk lanjut berkarir di BIS, karena mereka berpikir bahwa saya akan berjudi dengan hasil yang belum jelas apakah bisa diperoleh. Semua itu memiliki alasan kuat karena masih banyak hal yang perlu saya lewati hingga memperoleh beasiswa LPDP. Terlalu besar resiko yang saya akan hadapi ke depannya. Selain pendapat tersebut, ada kalimat yang membuat saya tercambuk untuk merealisasikan goal tersebut. Teman saya melontarkan bahwa wajah saya tidak ada nampak wajah luar negeri. Mungkin itu sebagai candaan saat itu, tapi tidak bisa dipungkiri itu membangun raksasa yang sedang tertidur. Harga diri saya terasa di koyak-koyak dan membuat saya berikrar dalam hati untuk membuktikan bahwa kalimat itu adalah KESALAHAN BESAR. Mungkn Tuhan awalnya menakdirkan saya untuk berkuliah dan bekerja di dalam negeri saja, tapi saya ingin melawan Takdir tersebut. Karena saya yakin bahwa semua takdir itu bisa diubah asalkan ada keyakinan dan usaha, kecuali mengenai nyawa.

Akhirnya, setelah beberapa hari berpikir, saya memutuskan untuk menyetor surat pengunduran diri ke Wakil Direktur BIS. Saya mengajukan pengunduran diri untuk lanjut kuliah di luar negeri. Hal yang mengherankan beliau adalah karean saya resign padahal saya belum dapat beasiswa. Ibaratnya saya ingin menukar kotak yang berisi dengan kotak kosong. Saya akhirnya diskusi dan diberi kesempatan untuk berpikir seblum membuat keputusan akhir.  Memang lucu juga karena itu merupakan hal yang nekat. Entah, apakah saat itu saya nekat karena ingin mewujudkan impian saya segera mungkin atau saya lagi dalam keadaan Bodoh dan tidak bisa berpikir dengan matang. Tapi dengan ucapan Basmalah, saya tetap maju meskipun dapat pencerahan dari beliau.

Tepat tanggal 8 Oktober 2015, saya pun dengan Ilham Baharuddin pergi ke Kampung Inggris dengan bermodalkan dana yang seadanya. Akan tetapi, saya telah memupuk semangat sebelum kesana. Saya terus menyakinkan diri bahwa saya telah ALL IN. Apa pun hasilnya, saya harus berjuang keras. Ibarat dalam perang, saya sudah membakar transport saya untuk balik ke rumah. Makanya saya harus maju dan menang atau mati dalm perjuangan. Lebih baik mencoba meskipun memperoleh hasil yang tidak diharapkan daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa. Tuhan tidak pernah tidur, dan Dia akan selalu tahu mana hamba-Nya yang telah berjuang. Hasil yang diperoleh tidak akan mengkhinati proses yang telah dilewati.

Note: Ini tulisan pertama saya mengenai perjalanan unrtuk memperoleh BEASISWA LPDP.

................to be continued

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Mimpi besar diawali dengan pengorbanan yang besar" (Lembaran Pertama)"

Post a Comment