Mungkin Tuhan Medidik Saya Menjadi Orang Besar (Lembaran Kedua)

Tiba di kampung pare, saya tidak memilih kursusan apapun kecuali ENGLISH STUDIO. Saya tahu bahwa disana mungkin terdapat kursusan yang lebih berkualitas dan lebih murah, mungkin... Akan tetapi, saya lebih percaya dengan perkataan sahabat-sahabatku. Saya sudah direkomendasikan Soma Salim dan Najib untuk kursus di ES. Maklum, mereka alumni disana dan sudah merasakan gimana proses belajar mengajar di ES. Salah satu yang mungkin menjadi pertimbangan calon member untuk membatalkan niatnya mengambil kursusan di ES adalah biaya investasinya yang lumayan tinggi. Bayangkan saja, saya harus menyediakan uang 6 juta untuk program Master Class yang durasinya 3 bulan. Itu hanya biaya kursus, belum lagi biaya makan dan akomodasi yang lain. Akan tetapi, semua itu telah terbayarkan setelah pencapain saat ini. Semua itu adalah investasi yang akan dilihat hasilnya ke depan.

Sejujurnya, salah satu ketakutanku di dunia ini adalah Bahasa Inggris. Entah kenapa saya sangat tergerak untuk menghapus ketakutan tersebut. Raksasa itu mengamuk dan ingin melumat habis pelajaran Bahasa Inggris. Ketika banyak orang yang ditanyakan kemampuannya sebelum masuk belajar Bahasa Inggris, jawabannya adalah mereka mulai dari nol. Akan tetapi, saya malahan dari minus. Bayangkan saja, pronunciation ku saja masih hancur dan menyesatkan. Berarti perlu dirombak ulang pengetahuanku. Semangat dan optimis lah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Sebelum saya mulai masuk kelas, saya sudah ketemu dengan pihak English Studio dan mulai mengakrabkan diri. Saya menyampaikan keinginan saya masuk ke Master Class padahal kemampuan sangat kurang. Saya tahu bahwa pada saat itu Mister Wawan dan Mister Eddy berat memasukkan saya ke MC.  Namun, saya katakan pada beliau berdua bahwa apa pun saya akan siap lakukan agar bisa menguasai Bahasa Inggris. Saya disuruh berenang di selokanpun saya mau, andai itu cara efektif belajar Bahasa Inggris. Asalkan jangan disuruh mencuri ataupun kejahatan lain, hehe.. Dan akhirnya, saya pun diberi kesempatan untuk memasuki MC dengan berikrar dalam hati bahwa "Saya pantang berhenti sebelum mencapai garis finish".

Akhirnya, kelasku dimulai dan bertemu dengan orang-orang hebat. Luar biasa, saya ketemu dengn awardee LPDP, mantan reporter Net TV, Marketing Properti dan teman-teman yang berkompeten. Berdasarkan hasil placement test, saya dan Nofri meruapakan siswa yang terbawah di dalam kelas tersebut. Bahkan kalau dinilai secara lebih mendalam, Nofri lebih unggul dibanding dari saya. Namun semua itu saya anggap sebagai sebuah tantangan karena berada di dalam kelas yang bisa memompa semangat saya untuk terus maju. Saya tidak akan pesimis meskipun saya merupakan yang paling bawah dalam hal Bahasa Inggris. Malahan itu bisa menjadi cambukan buat saya untuk terus maju. Saya selalu berpikir bahwa tidak menjadi masalah saya mulai darimana, tapi yang terpentimg adalah seberapa jauh saya berproses di dalam kelas tersebut.

Sudah tampak jelas pada saat itu bahwa saya berada sangat jauh di belakang dari mereka. Bayangkan saja, ketika kami kerja soal listening dan reading sebanyak 14 nomor, saya hanya mampu menjawab 4 nomor dengan benar. Sedangkan teman saya rata-rata bisa menjawab 10 atau 11 nomor dengan benar. Kosa kata pun saya masih sangat kurang. Ketika ditanya sesuatu dalam Bahasa Inggris, saya terkadang bingung. Hanya satu alasannya, saya tidak mengetahui apa yang ditanyakan. Saya masih kurang vocabularies. Beruntunglah, English Studio menerapkan English Area, mau tidak mau saya harus speaking English setiap saat. Kalau tidak saya lakukan, punishment menunggu.

Pada saat itu kelas saya dimulai dari jam 6 pagi sampai 10 pagi. Di sela jam tersebut, kami punya jam istirahat untuk mencari breakfast. Setelah itu, kami seharusnya balik ke kost untuk istirahat, tapi realitanya saya dan beberapa teman masih tinggal di ES untuk mengerjakan tugas. Jadi setiap hari kami harus membuat summary dari sebuah artikel ilmiah dan sebuah video dari website TED. Sejujurnya saya sangat kewalahan mengerjakan tugas summary dari sebuah video. Saya harus menonton video tersebut 3-4 kali untuk memahami apa yang dikatakan dari pembicara. Jadi, untuk membuat satu summary dari satu video saja membutuhkan waktu selama sejam.

Sesi kedua dari kelasku dimulai jam 1 siang setiap harinya. Itu berlangsung hingga jam 5 sore. Banyak hal yang dipelajari pada sesi tersebut, namun yang paling ditekankan adalah writing. Itu wajar karena skill yang paling membutuhkan waktu adalah wiritng. Sampai sekarang saya masih terkejut kenapa saya bisa menulis essay dalam Bahasa Inggris. Padahal saat placement test, menulis satu kalimat pun saya harus mengumpulkan semua unsur kepintaran. Haha..

Sebenarnya bukan hanya itu, kami juga memiliki tugas untuk mengerjakan workbook dan menghafal kosakata. Jangan pikir kosakata pendek, lumayan panjang karena phrase dan jumlah sekitar 35 phrase.Tugas tersebut mesti saya lakukan kalau ingin bergabung belajar di dalam kelas setaiap paginya. Karena itu syarat sebelum masuk kelas. Apalagi saat itu saya diajar oleh Miss Adhis yang tak bisa dipungkiri sebagai salah satu tutor yang sangat disiplin. Saya pernah terlambat 5 menit, dan ternyata saya harus memperoleh kata-kata yang menyudutkan. Tapi itu hal yang benar, karena kedisiplinan harus selalu di hadirkan untuk menapaki kesuksesan. Saya anggap itu sebagai tanda bahwa tutor perhatian dengan kami.

Sebelum ke pare, saya pernah dengar bahwa kampung pare itu tempat sangat bagus untuk belajar sekaligus jalan-jalan. Pada akhirnya itu tidak terjadi di saya. Bagaimana bisa liburan ke tempat wisata ketika weekend kalau tutor kami memberikan kami tugas yang banyak yang mesti dikerjakan sebelum masuk kelas di senin pagi. Saat itu, hiburan yang paling menyenangkan yaitu tidur siang selama 3 jam. Maklum, ketika masa belajar, durasi tidurku sekitar 5 jam sehari. 1 jam di siang hari dan 4 jam di malam hari. Oleh karena itu, saya konsumsi multivitamin dan madu untuk menjaga metabolisme tubuhku. Saya sempat mengeluh, tetapi saya tidak membiarkan itu mengedap lama di pikiranku. Saya harus selalu mengingat komitmen yang telah saya buat.

Selama saya berada di Master Class, saya sakit sebanyak 2 kali dan harus terbaring di kamar dan tak melakukan apa-apa. Sejujurnya, hal yang membuat saya jatuh sakit adalah tingkat stress yang saya alami. Memang pada saat itu saya kelelahan karena melewati rutinitas yang begitu padat. Akan tetapi, tekanan mental yang memperparah semua itu. Saya harus memaksakan diri untuk mempelajari hal yang saya tidak sukai. Bahkan untuk menghidari pelajaran Bahasa Inggris, saya memilih jurusan matematika. Ternyata, pelajaran tersebut tetap masih ada dalam keseharianku.

Salah satu kejadian yang selalu teringat adalah pada saat saya scoring di Advance Class. Bagaimana tidak, itu membuat saya terbaring di kamar selama 4 hari. Saat itu saya hanya memperoleh nilai 4 untuk reading dan listening padahal saya sudah belajar disana selama 2 bulan. Setelah kelas selesai, saya langsung ke kost dan berbaring di kamar. Saya berkeluh kesah dalam hati, "Kenapa mempelajari IELTS itu sulit". Itu selalu berdegung di dalam kepala saya. Selalu membisikkan untuk berhenti saja dalam mengejar tujuan tersebut.

Saat saya terbaring di kamar, itu merupakan hari-hari yang sangat berat. Saya harus sakit di kampung orang dan tidak memiliki teman. Saat itu, saya punya teman, tapi dia juga sibuk dengan kelasnya. Saya tidak ingin mengganggu kelasnya, makanya saya selalu bilang bahwa saya hanya butuh istrahat. Karena saya tidak merepotkan teman, beberapa kali saya memaksa diri keluar dari kost untuk membeli makanan dan obat. Saya selalu memaksakan diri untuk makan yang banyak agar bisa segera sembuh. Saya percaya bahwa ketika seseorang banyak minum air putih dan makan, maka itu akan membantu memulihkan kondisi tubuh karena ada asupan yang cukup untuk berakivitas.

Saya sungguh terjatuh pada saat itu. Akan tetapi, saya bangkit lagi ketika mendengar lagu la Vida dari Coldplay. Lagu itu memberikan keyakinan bahwa semua itu akan berakhir. Saya harus bangkit dan lebih berusaha keras. Lagu itu sungguh menginspirasiku. Bahkan saya memiliki satu impian yaitu berlari mengelilingi University of Bristol sambil mendengar lagu la vida dengan menggunakan headphone. Saya harus lakukan itu ketika disana.

Setelah beberapa hari, akhirnya saya bisa melanjutkan kelas lagi. Pada saat itu, saya lebih rileks karena saya sadar bahwa Tuhan pasti akan malu ketika tidak membalas jerih payahku. Semakin besar tantangan yang saya lewati, semakin saya sadar bahwa Tuhan mendidik saya menjadi orang besar.

"Pelaung Ulung Tidak Lahir Dari Ombak Yang Tenang"



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mungkin Tuhan Medidik Saya Menjadi Orang Besar (Lembaran Kedua)"

Post a Comment