IELTS is warm-up of study abroad

Di tulisan sebelumnya membahas alasan saya memilih IELTS sebagai jalur untuk memperoleh beasiswa. Ternyata pilihan saya tersebut sudah tepat. Setelah membaca beberapa referensi dan menonton informasi  mengenai IELTS, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan kenapa teman-teman lebih baik memutuskan untuk mempelajari IELTS dibanding sistem Bahasa Inggris yang lain. Oh iya, karena IELTS memiliki dua jenis (Academic dan General), tulisan ini hanya fokus pada Academic Training. Maaf, saya bukan promosi mengenai program IELTS tapi saya hanya mau berbagi pengalaman beradasarkan sudut pandangku.

International English Language Testing System (IELTS) meruapakan sistem yang diciptakan oleh Cambridge University yang berkerja sama dengan beberapa pihak. Pada sistem tersebut, examiner akan mengukur empat kemampuan peserta (Listening, Reading, Speaking, and Writing). Kalau kita telusuri lebih mendalam, itu merupakan komponen yang sangat diperlukan oleh calon-calon mahasiswa luar negeri yang berada di kelas Internasional. Yang pertama, sangat jelas bahwa kita perlu membiasakan diri untuk membaca referensi yang berbahasa Inggris. Terutama bacaan yang tergolong tulisan formal. Akan kewalahan mahasiswa yang tidak biasa ketemu dengan literatur yang full English karena dia akan butuh waktu lagi untuk beradaptasi dengan bacaan-bacaan tersebut. Untung kalau kuliahnya berdurasi lama, bagaimana dengan kampus yang hanya menyediakan waktu perkuliahan sekitar setahun. Kita terpaksa haru bisa membiasakan diri dengan cepat kalau tidak ingin berada dalam list mahasiswa yang drop out.

Ketika kita mempersiapkan diri mengikuti IELTS test, secara langsung kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan tersebut. Bayangkan saja, kita harus membiasakan diri untuk membaca tulisan formal dalam Bahasa Inggris. Akan terasa hasilnya setelah kita menempatkan kebiasaan membaca artikel tersebut ke dalam agenda keseharian, kosa kata kita akan semakin banyak. Mungkin awalnya kita akan sering membuka kamus, tapi itu hal yang wajar. Semua itu telah dilewati oleh kebanyakan orang termasuk saya. Demi memahami bacaan, kita harus menggunakan kamus dalam mengartikan kata demi kata. Tapi seiring waktu berjalan, kita akan semakin mudah memahami tulisan yang sejenis. Sebenarnya dalam memahami sebuah tulisan, kita tidak perlu mengartikan satu per satu. Terkadang ada kata yang tidak diketahui artinya, tetapi kita bisa mengerti maksud dari kalimat tersebut. Kita tidak perlu kaget  kenapa bisa mengerti dengan mudah setelah beberapa waktu bergelut. Karena otak kita sudah terbiasa membaca tulisan Bahasa Inggris sehingga secara refleks kita mampu menerka maksud dari kata-kata tersebut. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa bacaan-bacaan yang di dalam IELTS akan kita jumpai lagi di dunia perkuliahan karena memang kebanyakan materinya dari bacaan yang ilmiah.

Skill kedua yang perlu ditingkatkan adalah Listening. Haha, bagi saya itu merupakan  tantangan terbesar bagi saya di IELTS. Kalau teman-teman tahu, nilai placement test saya sewaktu ambil kursus di English Studio untuk ambil program Preparation of IELTS hanya berada di 2. Saya tidak terkejut dengan hasil tersebut, karena memang dulu saya tidak biasa mendengar rekaman atau menonton video Bahasa Inggris. Sejujurnya saya menyukai nonton film Barat, tetapi kan ada terjemahannya di bawah. Saya hanya fokus pada terjemahaanya dan tidak mencerna baik apa yang aktor atau aktris katakan. Lagu Bahasa Inggris pun tidak ada saya hafal pada saat itu, karena memang malas mendengar musik Barat. 

Telusur penuh telusur, ternyata itu sangat diperlukan. Karena di dalam Lsitening test, kita akan mendengar berbagai jenis dialog, mulai percakapan biasa hingga pemcaraan dalam sebuah perkuliahan. Semua itu akan akan kita temui ketika menginjakkan kaki di kampus Luar negeri. Pernah suatu ketika saya chatingan dengan teman yang berkuliah di Adelaide Univeristy, dia langsung memberi saya sebuah saran yang bermanfaat. Katanya saya harus meningkatkan kemampuan listening kalau memiliki niat melanjutkan kuliah di Luar Negeri. Karena cara ngomong dosen saat mengajar lebih cepat dibanding rekaman soal IELTS. Untungnya, di dalam kelasnya terdapat alat perekam dan hasil rekamannya bisa di copy dan dipelajari ulang di rumah. Cerita tersebut saya sudah dengar dua kali karena betapa pentingnya skil tersebut. Oleh karena itu, samapi sekarang pun saya masih membiasakan mendengar rekaman dalam Bahasa Inggris atau menonton video Bahasa Inggris. Saya juga sering akses website Ted.com untuk menonton video di dalamnya. Selain karena pembicaranya menggunakan Bahasa Inggris, pembahasannya juga sangat menarik. Sebaiknya teman-teman mempelajari dengan baik listening of IELTS karana itu salah satu modal yang penting ketika di Luar Negeri. 

Untuk sementara ini saya hanya membahas dua skil tersebut karena saya takut tulisan ini akan membosankan kalau terlalu panjang. Ditulisan berikunya saya akan mengulas kembali kenapa belajar IELTS penting untuk persiapan kuliah ke Luar Negri. Terima kasih See you guys.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "IELTS is warm-up of study abroad"

Post a Comment